Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi 9 September 2026, Status Masih Siaga

Kasus ISPA di Lampung Meningkat Akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau
Erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 menyebabkan sebaran abu vulkanik berdampak pada sejumlah wilayah, termasuk Lampung. Paparan abu vulkanik perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kesehatan, terutama saluran pernapasan, mata, dan kulit.
Salah satu dampak yang mulai terlihat adalah peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sejumlah wilayah Lampung. Masyarakat di daerah yang terdampak abu vulkanik perlu mengurangi paparan dan meningkatkan perlindungan diri, terutama ketika harus beraktivitas di luar rumah.
Kasus ISPA di Lampung Mengalami Peningkatan
Berdasarkan laporan Pemerintah Provinsi Lampung yang diberitakan detikSumbagsel, terjadi peningkatan kunjungan masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Tanggamus setelah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Pada 5 September 2026, tercatat 52 kunjungan ke fasilitas kesehatan di Tanggamus, dengan 46 orang di antaranya didiagnosis mengalami ISPA. Jumlah tersebut meningkat pada 6 September 2026 menjadi 158 kunjungan, dengan 76 kasus ISPA.
Artinya, dalam satu hari terjadi peningkatan kunjungan sebanyak 106 orang, sementara jumlah kasus ISPA bertambah 30 kasus. Data tersebut menunjukkan adanya tren peningkatan gangguan pernapasan di wilayah yang terdampak. Data dari daerah lainnya masih terus dihimpun oleh pemerintah daerah.
Mengapa Abu Vulkanik Dapat Mengganggu Pernapasan?
Abu vulkanik terdiri dari partikel yang dapat terbawa udara dan masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup. Paparan abu dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan iritasi dan memperburuk keluhan pada orang yang memiliki gangguan pernapasan.
Pemeriksaan terhadap sampel abu vulkanik yang dilakukan Pemerintah Provinsi Lampung melalui Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) menemukan partikel berukuran sekitar 5 hingga 10 mikrometer dengan permukaan tidak beraturan dan cenderung tajam.
Karakteristik tersebut perlu diwaspadai karena abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, mata, maupun kulit. Kementerian Kesehatan juga menyebutkan bahwa partikel halus dari abu vulkanik, termasuk PM2,5, dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan memicu peradangan serta gangguan kardiopulmonal.
Dampak Abu Vulkanik terhadap Kesehatan
Paparan abu vulkanik tidak hanya berhubungan dengan gangguan pernapasan. Partikel abu juga dapat mengiritasi bagian tubuh lain, terutama mata dan kulit.
- Saluran pernapasan: Abu vulkanik dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu atau memperburuk keluhan seperti batuk serta gangguan bernapas.
- Mata: Partikel abu dapat menyebabkan iritasi pada mata sehingga mata terasa tidak nyaman.
- Kulit: Kontak dengan abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada kulit.
Kelompok tertentu juga perlu mendapatkan perhatian lebih, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki riwayat gangguan atau penyakit pernapasan.
Cara Melindungi Diri dari Abu Vulkanik
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak sebaiknya mengurangi paparan abu vulkanik. Jika tidak ada keperluan mendesak, aktivitas di luar rumah sebaiknya dibatasi.
- Gunakan masker saat berada di luar rumah. Masker dapat membantu mengurangi paparan partikel abu yang terhirup. Kemenkes menganjurkan penggunaan masker N95, KN95, KF94, FFP2, atau yang setara. Masker medis dapat digunakan sebagai perlindungan sementara jika jenis tersebut belum tersedia.
- Gunakan pelindung mata. Gunakan kacamata pelindung atau goggles ketika harus beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi paparan abu pada mata.
- Gunakan pakaian tertutup. Pakaian berlengan panjang dapat membantu mengurangi kontak abu vulkanik dengan kulit.
- Batasi aktivitas di luar rumah. Jika tidak ada keperluan mendesak, tetap berada di dalam rumah dapat membantu mengurangi paparan abu vulkanik.
- Tutup pintu dan jendela. Saat paparan abu masih terjadi, pintu dan jendela sebaiknya ditutup untuk mengurangi masuknya abu ke dalam rumah.
Bagaimana Cara Membersihkan Abu Vulkanik?
Abu vulkanik yang menempel di sekitar rumah perlu dibersihkan dengan cara yang tepat. Membersihkan abu dalam kondisi kering dengan cara menyapu dapat membuat partikel kembali beterbangan dan meningkatkan risiko terhirup.
Kementerian Kesehatan menyarankan penggunaan metode pembersihan yang dapat mengurangi abu beterbangan, seperti menggunakan kain lembap atau membersihkan permukaan dengan air dan deterjen. Gunakan masker sebelum melakukan kegiatan pembersihan.
Jika abu mengenai tubuh atau pakaian, bersihkan tubuh dan ganti pakaian setelah selesai beraktivitas di luar rumah untuk mengurangi paparan partikel abu.
Kapan Harus ke Fasilitas Kesehatan?
Tidak semua paparan abu vulkanik menyebabkan gangguan kesehatan berat. Namun, masyarakat perlu memperhatikan munculnya keluhan setelah terpapar abu vulkanik.
Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan seperti sesak napas atau gangguan kesehatan yang mengkhawatirkan setelah terpapar abu vulkanik.
Kemenkes juga mengimbau masyarakat yang mengalami batuk, sesak napas, iritasi mata, atau keluhan kesehatan setelah terpapar abu untuk segera mencari pertolongan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Fasilitas Kesehatan Disiagakan Menghadapi Dampak Erupsi
Pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Puskesmas dan rumah sakit diminta memastikan pelayanan tetap siap apabila terjadi peningkatan jumlah pasien.
Kesiapsiagaan tersebut mencakup tenaga kesehatan, ketersediaan obat-obatan, bahan medis habis pakai, stok oksigen, serta sistem rujukan medis.
Kementerian Kesehatan juga menyatakan telah menyiagakan rumah sakit dan puskesmas di wilayah terdampak serta mendistribusikan berbagai kebutuhan kesehatan, termasuk masker, oksigen, obat-obatan, dan alat kesehatan.
Jangan Panik, Tetap Waspada terhadap Abu Vulkanik
Erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik perlu dihadapi dengan kewaspadaan, bukan kepanikan. Masyarakat sebaiknya mengikuti informasi dan arahan resmi dari pemerintah serta membatasi aktivitas di luar rumah ketika paparan abu masih terjadi.
Menggunakan masker, melindungi mata, mengenakan pakaian tertutup, menutup pintu dan jendela, serta membersihkan abu dengan cara yang tepat merupakan langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi paparan abu vulkanik.
Jika muncul keluhan seperti sesak napas, batuk, iritasi mata, atau gangguan kesehatan lainnya setelah terpapar abu vulkanik, jangan menunda untuk mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Kesimpulan
Peningkatan kasus ISPA di Kabupaten Tanggamus menjadi salah satu dampak kesehatan yang perlu diperhatikan setelah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Data pemerintah daerah menunjukkan kasus ISPA meningkat dari 46 kasus pada 5 September menjadi 76 kasus pada 6 September 2026.
Abu vulkanik dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit. Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak perlu mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan perlindungan yang sesuai apabila harus beraktivitas di luar.
Perlindungan diri dan kewaspadaan menjadi langkah penting selama kondisi erupsi dan sebaran abu vulkanik masih berlangsung. Apabila mengalami gangguan pernapasan atau keluhan kesehatan setelah terpapar abu, segera mencari pertolongan medis.
Sumber:
- detikSumbagsel. (2026). Kasus ISPA di Lampung Melonjak Imbas Erupsi Anak Krakatau. Diakses September 2026.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Kemenkes Siagakan 413 Rumah Sakit dan 830 Puskesmas Hadapi Dampak Erupsi Anak Krakatau.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Panduan Pencegahan Dampak Kesehatan Abu Vulkanik.
- World Health Organization (WHO). Volcanic Eruptions.