Tuberkulosis (TBC): Gejala, Penyebab, Penularan, Pemeriksaan, dan Cara Mencegahnya

Tuberkulosis (TBC): Gejala, Penyebab, Penularan, Pemeriksaan, dan Pencegahan
.Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja dan paling sering menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang organ tubuh lainnya.
Apa yang Dimaksud dengan Tuberkulosis (TBC)?
Tuberkulosis, yang sering disingkat TB atau TBC, adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja.
Organ tubuh yang biasanya diserang adalah paru-paru. Namun, bakteri penyebab TBC juga dapat menyerang tulang belakang, kulit, otak, kelenjar getah bening, dan jantung.
Bagaimana TBC Menular?
Penularan TBC terjadi ketika seseorang menghirup udara yang mengandung kuman TB. Kuman tersebut dapat tersebar ketika penderita TBC batuk atau bersin tanpa menutup mulut.
Bakteri dapat menyebar ke udara dalam bentuk percikan dahak atau droplet. Sekali batuk dapat mengeluarkan sekitar 3.000 percikan dahak yang mengandung hingga 3.500 kuman Mycobacterium tuberculosis. Sementara itu, sekali bersin dapat mengeluarkan sekitar 4.500 hingga 1 juta kuman Mycobacterium tuberculosis.
Bakteri kemudian masuk melalui saluran pernapasan menuju paru-paru dan dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya. Reaksi daya tahan tubuh terhadap infeksi terjadi sekitar 6–14 minggu setelah infeksi.
Lesi akibat infeksi umumnya dapat sembuh total. Namun, kuman dapat tetap hidup di dalam lesi dalam keadaan dormant atau tidak aktif. Kuman tersebut dapat kembali aktif pada suatu saat, tergantung pada kondisi daya tahan tubuh.
Gejala TBC
Gejala utama TBC adalah batuk yang berlangsung terus-menerus, baik berdahak maupun tidak berdahak. Selain batuk, terdapat beberapa gejala lain yang perlu diperhatikan.
- Demam dan meriang dalam waktu yang panjang. Kondisi ini dapat menjadi salah satu gejala yang menyertai TBC.
- Sesak napas dan nyeri dada. Kedua kondisi tersebut termasuk gejala lain yang dapat menyertai TBC.
- Berat badan menurun. Penurunan berat badan dapat terjadi pada penderita TBC.
- Dahak bercampur darah. Pada kondisi tertentu, dahak yang keluar saat batuk dapat bercampur dengan darah.
- Nafsu makan menurun. Penurunan nafsu makan dapat menjadi salah satu gejala yang menyertai TBC.
- Berkeringat di malam hari. Kondisi ini dapat terjadi meskipun tidak sedang melakukan aktivitas.
Kelompok yang Berisiko Terkena TBC
Siapa pun yang berada di dekat orang yang terinfeksi TBC dapat terkena dampaknya. Namun, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi, terutama orang yang mengalami penurunan daya tahan tubuh.
- Anak-anak. Anak-anak termasuk salah satu kelompok yang lebih berisiko terkena dampak TBC.
- Orang dengan HIV/AIDS. Kondisi yang berkaitan dengan daya tahan tubuh dapat meningkatkan risiko terkena TBC.
- Lansia. Lansia termasuk salah satu kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi.
- Orang dengan Diabetes Melitus (DM). Diabetes Melitus termasuk salah satu kondisi yang berkaitan dengan meningkatnya risiko TBC.
- Orang yang sering kontak langsung dengan penderita TBC. Kontak langsung yang sering dengan penderita TBC dapat meningkatkan risiko penularan.
- Perokok aktif. Kebiasaan merokok termasuk salah satu faktor yang berkaitan dengan risiko TBC.
Risiko penularan TBC juga cukup besar pada orang yang tinggal di tempat yang tidak memenuhi syarat kesehatan, seperti lingkungan padat dan kumuh, tempat pendidikan dengan sistem asrama, rumah tahanan, atau lembaga pemasyarakatan.
Pemeriksaan TBC
Pemeriksaan TBC dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis. Beberapa pemeriksaan yang dapat digunakan antara lain pemeriksaan dahak, tes tuberkulin, rontgen dada, dan Tes Cepat Molekuler (TCM).
- Pemeriksaan dahak (BTA). Dahak diambil sebanyak dua kali dalam satu hari atau dua hari dengan metode SS/SP.
- SS (Sewaktu-Sewaktu). Dahak diambil saat datang ke fasilitas pelayanan kesehatan pada hari pertama sebanyak dua kali dengan interval minimal satu jam.
- SP (Sewaktu-Pagi). Dahak diambil saat datang ke fasilitas pelayanan kesehatan pada hari pertama dan kembali diambil pada pagi hari setelah bangun tidur pada hari kedua.
- Tes tuberkulin. Pemeriksaan ini digunakan sebagai penunjang diagnosis TBC dengan cara menyuntikkan 0,1 ml tuberkulin purified protein derivative (PPD) ke permukaan bagian dalam lengan bawah.
- Rontgen dada. Pemeriksaan tambahan ini dapat dilakukan apabila hasil pemeriksaan dahak negatif, tetapi masih terdapat gejala TBC lainnya.
- Tes Cepat Molekuler (TCM). TCM merupakan alat diagnosis utama yang digunakan untuk penegakan diagnosis TBC.
Tujuan dan Target Penanggulangan TBC
Penanggulangan TBC bertujuan untuk melindungi kesehatan masyarakat dari penularan TB agar tidak terjadi kesakitan, kematian, dan kecacatan.
Target program penanggulangan TBC secara nasional adalah mencapai eliminasi TBC pada tahun 2035 dan mewujudkan Indonesia bebas TB pada tahun 2050.
Kegiatan Penanggulangan TBC
Upaya penanggulangan TBC dilakukan melalui berbagai kegiatan untuk mencegah penularan, menemukan kasus, menangani pasien, serta meningkatkan peran masyarakat.
- Promosi kesehatan. Kegiatan ini bertujuan memberdayakan masyarakat agar berperan aktif dalam mencegah penularan TBC, meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap pasien TBC.
- Surveilans TBC. Kegiatan ini dilakukan melalui pemantauan dan analisis data serta informasi mengenai kejadian TBC dan faktor yang memengaruhinya. Hasilnya digunakan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian program penanggulangan TBC serta meningkatkan kewaspadaan dini dan tindakan respons terhadap peningkatan TBC resistan obat.
- Pengendalian faktor risiko TBC. Upaya ini dilakukan untuk mencegah dan mengurangi penularan serta kejadian penyakit TBC.
- Penemuan dan penanganan kasus TBC. Penemuan kasus dapat dilakukan secara aktif melalui investigasi dan pemeriksaan kontak, skrining secara massal terutama pada kelompok rentan dan berisiko, serta skrining pada kondisi khusus. Penemuan secara pasif dilakukan melalui pemeriksaan pasien yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan.
- Penanganan kasus TBC. Penanganan dilakukan untuk memutus mata rantai penularan dan/atau mengobati pasien. Tata laksana kasus meliputi pengobatan dan penanganan efek samping, pengawasan kepatuhan menelan obat, pemantauan kemajuan dan hasil pengobatan, serta pelacakan kasus yang mangkir.
- Pemberian kekebalan. Imunisasi BCG pada bayi merupakan tindakan pemberian kekebalan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tingkat keparahan TBC.
- Pemberian obat pencegahan TBC. Obat pencegahan diberikan kepada anak usia di bawah 5 tahun yang kontak erat dengan pasien TBC aktif, orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) yang tidak terdiagnosis TBC, serta populasi tertentu lainnya. Pemberian obat pencegahan TBC pada anak dan ODHA dilakukan selama 6 bulan.
Tanggung Jawab Pemerintah dalam Penanggulangan TBC
Pemerintah pusat dan daerah memiliki tanggung jawab dalam penyelenggaraan program penanggulangan TBC.
- Menyelenggarakan penanggulangan TBC. Pemerintah bertanggung jawab menyelenggarakan penanggulangan TBC melalui upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan.
- Menetapkan pengelola program TBC. Dinas Kesehatan provinsi dan kabupaten/kota harus menetapkan unit kerja yang bertanggung jawab sebagai pengelola program penanggulangan TBC.
- Menjamin ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan. Ketersediaan tersebut meliputi obat anti tuberkulosis lini 1 dan lini 2, vaksin untuk kekebalan, obat pencegahan TBC, alat kesehatan, dan reagensia. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) diberikan secara gratis.
- Menjamin ketersediaan laboratorium. Pemerintah bertanggung jawab menjamin ketersediaan sarana dan prasarana laboratorium kesehatan yang terakreditasi.
- Menjamin ketersediaan anggaran. Pemerintah bertanggung jawab memastikan anggaran untuk penyelenggaraan penanggulangan TBC tersedia.
- Menjamin ketersediaan teknologi. Pemerintah bertanggung jawab menjamin ketersediaan teknologi yang dibutuhkan dalam penanggulangan TBC.
- Melakukan pembinaan dan pengawasan. Pemerintah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan penanggulangan TBC.
Peran Masyarakat dalam Penanggulangan TBC
Masyarakat juga memiliki peran penting dalam membantu mencegah penularan TBC dan mendukung penanggulangan penyakit ini.
- Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Masyarakat dapat menjaga lingkungan tetap sehat dan menerapkan etika batuk dengan benar.
- Mencegah stigma dan diskriminasi. Masyarakat perlu mengupayakan agar tidak terjadi stigma dan diskriminasi terhadap kasus TBC.
- Membentuk dan mengembangkan Warga Peduli Tuberkulosis. Masyarakat dapat berperan aktif melalui pembentukan dan pengembangan Warga Peduli Tuberkulosis.
- Mendorong pemeriksaan kesehatan. Warga yang diduga mengalami TBC perlu dipastikan memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Gaya Hidup Sehat untuk Mencegah TBC
Menjaga pola hidup sehat merupakan salah satu bagian penting dalam upaya mencegah TBC dan menjaga daya tahan tubuh.
- Mengonsumsi makanan bergizi. Makanan yang bergizi dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh.
- Menjaga sirkulasi udara. Buka pintu dan jendela setiap pagi agar rumah mendapatkan cukup sinar matahari dan udara segar.
- Menjemur alas tidur. Alas tidur perlu dijemur agar tidak lembap.
- Mendapatkan vaksin BCG. Anak usia di bawah 5 tahun mendapatkan suntik vaksin BCG untuk membantu menghindari TBC berat, seperti meningitis dan milier.
- Berolahraga secara rutin. Olahraga dianjurkan dilakukan secara rutin minimal 2 kali seminggu.
- Tidak merokok. Menghindari rokok merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan.
- Tidak membuang dahak sembarangan. Dahak atau ludah tidak boleh dibuang di sembarang tempat.
- Menerapkan etika batuk. Terapkan etika batuk dengan benar ketika batuk atau bersin.
Pengobatan TBC
Pengobatan TBC berlangsung selama 6–8 bulan dan terbagi menjadi dua tahap.
- Tahap awal atau intensif. Pada tahap ini, obat diminum setiap hari selama 2 atau 3 bulan.
- Tahap akhir. Setelah tahap awal selesai, obat diminum 3 kali seminggu selama 4 atau 5 bulan.
Setiap pasien TBC berkewajiban mengikuti seluruh tahapan dalam penanganan kasus TBC.
Kesimpulan
Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang bagian tubuh lainnya.
Gejala TBC yang perlu diperhatikan antara lain batuk terus-menerus, demam dan meriang dalam jangka panjang, sesak napas, nyeri dada, berat badan menurun, dahak bercampur darah, nafsu makan menurun, serta berkeringat di malam hari.
Pencegahan TBC dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga sirkulasi udara, mengonsumsi makanan bergizi, tidak merokok, tidak membuang dahak sembarangan, menerapkan etika batuk, serta mendapatkan vaksin BCG sesuai ketentuan.
Jika terdapat gejala atau kondisi yang mengarah pada TBC, segera lakukan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.
Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Ayo Sehat.